Mengingat unggas ini masih saudara dekat ayam. Maka puyuh dapat
terserang penyakit yang umum terdapat pada ayam.. Penyakit yang sering
menyerang ternak puyuh diantaranya; New castle Disease, Coccidiosis,
Radang Usus, Berak kapur (pullorum), Cacar Unggas, Bronchitis, Cacing.
Sabtu, 14 Juli 2012
Minggu, 17 Juni 2012
Rabu, 13 Juni 2012
Sempat Ditolak Kerja Triyono, Juragan Agribisnis Beromzet Miliaran
KOMPAS.com — Mungkin kita perlu mencontoh semangat Triyono, finalis tingkat nasional Penghargaan Wirausahawan Mandiri 2010 ini. Meski memiliki kekurangan fisik, ia berhasil mendirikan usaha di bidang agribisnis peternakan dan berhasil mencetak omzet hingga Rp 3 miliar per tahun.
Fisik Triyono memang tak sempurna. Meski ketika berjalan harus ditopang kruk yang mengapit di kedua lengannya, ia berhasil membuktikan kepada dunia bahwa ia mampu memberikan manfaat kepada orang lain.
Ketika ditemui KONTAN, Rabu (19/1/2011) di Jakarta, Triyono terlihat semringah. Berkali-kali ia tersenyum ketika menceritakan awal memulai bisnis. Bukan mengingat kenangan manis, tapi justru soal kesulitan dan tantangan yang ia hadapi saat membangun bisnis peternakan di Sukoharjo.
Tri, sapaan pria yang sejak berusia satu tahun divonis penyakit polio ini, bercerita bahwa ketika terjun di dunia agribisnis, dia tak banyak mendapat dukungan dari kerabat dan keluarganya sendiri. "Mereka saat itu selalu melihat ketidaksempurnaan fisik saya, mereka ragu akan kemampuan saya bekerja. Saat itulah saya merasa tidak berguna," kenang Tri.
Lelaki berumur 29 tahun ini teguh memegang prinsip: sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Penolakan yang selalu disematkan kepadanya ketika mencari pekerjaan menyadarkan Tri bahwa ia harus membangun usaha sendiri untuk mengasapi dapurnya. "Sudah pasti, saya adalah orang pertama yang ditolak perusahaan ketika melamar sekalipun IPK saya bagus," tuturnya sambil tersenyum.
Tri mulai merintis usaha agribisnis peternakan ketika masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Pertanian dan Peternakan Universitas Sebelas Maret, Solo, tahun 2006. Dengan bermodalkan Rp 5 juta, ia memulai usaha bebek potong. Ia membeli 500 bebek untuk dia kembang biakkan dan dibesarkan di lahan pekarangan rumah keluarganya.
Ia benar-benar menerapkan ilmu peternakan yang diperoleh di bangku kuliah. Hasilnya tokcer. Banyak pesanan mampir karena kualitas bebek peternakan Tri terbilang unggul. Bebek hasil ternaknya bukan hanya sehat, tetapi juga memiliki berat proposional. Ini yang membuat harga "si kwek-kwek" selalu bagus.
Pelan tapi pasti, selama setahun Tri mampu mengumpulkan modal dari usaha bebek potongnya. Tri memakai tambahan dana itu sebagai usaha jual beli sapi menjelang Idul Adha.
Awal 2007 ia memberanikan diri memulai usaha jual beli hewan kurban. Ia mengenang, saat itu menjadi tahun terberat baginya. Selain harus mempersiapkan ujian skripsi, ia juga baru merintis agribisnis.
Walhasil, saat pagi hingga siang hari ia harus berkutat dengan kuliah. Setelah itu Tri mencurahkan waktunya membeli dan menjual sapi untuk pasokan hari raya kurban.
Seorang diri, ia memasok hewan-hewan tersebut ke beberapa daerah di sekitar Sukoharjo. Masuk keluar pasar setiap hari sudah menjadi kegiatan rutin. "Saya harus berjalan jauh dengan menggunakan kruk, mencari dan membeli sapi yang berkualitas kemudian mengantar sapi-sapi tersebut ke tempat pesanan," kenang Tri. Tapi, dia pantang menyerah meski beberapa orang kerap menolak bekerja sama dengannya.
Segala usahanya tak sia-sia. Tri lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3,2, dan juga meraih untung dari hasil penjualan sapi kurban. Ia memutar kembali keuntungan itu sebagai modal membeli sapi dan ayam.
Menyadari peluang usaha dari agribisnis cukup besar karena menyangkut kebutuhan primer banyak orang, dengan bermodalkan Rp 20 juta, Tri pun mantap membangun usaha secara serius pada tahun 2008.
Dengan mengibarkan bendera CV Tri Agri Aurum Multifarm, Tri berbisnis peternakan terpadu sapi potong, ayam potong, dan pupuk organik. Meski tak memiliki latar belakang berbisnis, Tri mampu meraih pasar dengan cepat.
Bekal kuliah menjadi nilai plus mengembangbiakkan ternak. Alhasil, pada 2008 dia mampu meraih omzet Rp 50 juta per bulan. Dia juga berhasil membuka lapangan kerja baru di desanya.
Meski tak keluar sebagai pemenang Wirausahawan Mandiri 2010, Triyono tak kecewa. Maklum, sejatinya, melalui ajang bertaraf nasional ini, ia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa peternakan sangat layak menjadi pilihan anak muda dalam berusaha. Asalkan, dikelola dengan manajemen yang baik.
Bagi Triyono, persoalan menang atau kalah bukanlah tujuannya mengikuti ajang Wirausahawan Mandiri 2010. Ada gol lain yang hendak dituju. Yakni, mengenalkan CV Tri Agri Aurum Multifarm ke seluruh Indonesia.
Tak hanya itu, Triyono juga ingin menunjukkan ke semua orang bahwa agribisnis bukan hanya usaha yang cocok untuk orang tua, tetapi juga dapat dikelola oleh anak muda seperti dirinya. "Saya ingin usaha agribisnis yang dikelola anak muda menjadi tren," ungkap Triyono.
Sejak mengembangkan usaha agribisnis dengan bendera Tri Agri tiga tahun lalu, omzet Triyono terus menanjak setiap tahun. Jika pada 2008, penghasilannya baru sebesar Rp 500 juta. Pada 2010 lalu pendapatannya melonjak enam kali lipat menjadi Rp 3 miliar.
Berbekal ilmu peternakan yang ia pelajari saat bangku kuliah, Triyono memulai usaha agribisnisnya dengan menjual bebek potong hingga kemudian beternak ayam dan terakhir sapi.
Kualitas ternak-ternak milik Triyono yang dibudidayakan di peternakan seluas 1 hektar tersebut terbilang unggul ketimbang ternak milik pelaku usaha lain. Meski begitu, bukan berarti Triyono boros dalam membudidayakan semua hewan ternaknya, justru sebaliknya. Tapi, "Bukan berarti saya irit memberi makanan ternak, tapi saya memberi makanan ternak secukupnya," ujar pria 29 tahun ini.
Hewan ternak yang diberi makan sesuai dengan asupannya dan tepat waktu lebih sehat dibandingkan dengan hewan ternak yang terus-terusan diberi makan. "Kami selalu memberi pakan tanpa campuran bahan kimia, hanya yang ada di lahan kamilah yang dimakan ternak, misalnya, rumput hijau," kata Triyono.
Cara ini tentu saja dapat menekan biaya operasional. Triyono juga memanfaatkan aneka bumbu dapur, seperti kunyit, jahe, dan lengkuas untuk mengobati ternak-ternaknya yang sakit akibat faktor perubahan cuaca. "Kalau ternak tak nafsu makan, tinggal diberi daun pepaya yang telah ditumbuk halus," imbuh dia.
Memanfaatkan pakan yang bersumber langsung dari alam tanpa campuran bahan kimia, Triyono mengatakan, juga akan menghasilkan sapi, ayam, dan bebek yang sehat dan bebas dari penyakit. Jadi, manajemen pakan, menurut Triyono, adalah 70 persen kunci dari keberhasilannya.
Namun, pola peternakan yang layak ditiru dari Triyono tak cuma sekadar soal memelihara, membesarkan, dan menjual hewan ternak, tetapi juga mengenai pengolahan limbah ternak.
Triyono—yang kerap memberikan penyuluhan kepada mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Universitas Sebelas Maret Surakarta—memanfaatkan kotoran hewan ternaknya menjadi pupuk kompos, kemudian dijual ke pasar seharga Rp 350 per kilogram.
Dalam sebulan, Triyono dapat mengolah 15 ton kotoran ternak yang disulap menjadi pupuk. Pria yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) selama setahun saat usia delapan tahun ini mengatakan, ide mengolah limbah peternakan muncul ketika ia melihat kotoran ternak yang makin menggunung di sekitar lahan peternakannya.
Untuk menjadi pupuk, Triyono mencampur kotoran ternak dengan tanah dan serbuk jerami. Pengerjaannya secara manual. Setelah semua bahan tercampur secara merata, kemudian dibungkus dengan plastik dan siap dijual ke pasar.
Meski usaha agribisnis seperti peternakan telah mengantarkan sebagian orang bergelimang harta, toh sektor ini belum menjadi pilihan kalangan anak muda. Selain masih dinilai terlalu kolot dan hanya cocok untuk orang tua dan masyarakat pedesaan, agribisnis khususnya peternakan dianggap tidak bergengsi.
Apalagi, Triyono mengatakan, memulai usaha di bidang agribisnis harus memiliki modal yang besar. Inilah yang membuat para peternak lebih terlihat sebagai pemasok yang hanya mengejar keuntungan semata.
Padahal, menurut Triyono, kalau usaha ini dikelola dengan baik, niscaya beternak bisa setara dengan usaha-usaha bergengsi lainnya, seperti kuliner, industri kreatif, atau jasa. (Mona Tobing/Kontan)
Selasa, 12 Juni 2012
Memilih Puyuh Unggul
Kandang Puyuh Sajuri.S.P |
Menetaskan puyuh sendiri
merupakan solusi apabila ingin berternak puyuh. Mengapa kita harus mencoba
menetaskan sendiri?. Karena puyuh yang kita ternakan akan selalu berkurang
dalam waktu satu minggu 3-5 ekor akan mati disebabkan oleh banyak faktor. Puyuh
mati biasanya disebabkan karena sakit berak kapur, kerdil, susah makan dan lain
sebagainya.
Daun Gamal untuk Obat Scabies pada Kambing
Skabies merupakan penyakit parasit menular pada kulit yang disebabkan oleh tungau. Dua spesies tungau yang sering menyebabkan sckabies pada kambing adalah Sarcoptes scabei dan Psoroptes ovis. Penyakit ini masih menjadi perhatian penting pada kambing di Indonesia.
Kambing yang terkena skabies mempunyai gejala adanya kegatalan yang hebat sehingga hewan berusaha untuk terus menerus menggaruk diikuti dengan timbulnya kropeng dan kerontokan bulu. Jika penyakit berlanjut kulit menjadi tebal dan berbintil yang umumnya muncul pada ujung mulut, sekitar mata dan didalam telinga. Jika luka terjadi di sekitar mulut maka kambing akan mengalami kesulitan makan dan akan mati karena kekurangan makanan.
Penyakit ini sering dibiarkan begitu saja pada kambing-kambing di pedesaan karena kendala harga obat yang mahal, padahal penyakit ini akan cepat menular pada hewan dalam satu kandang dan jika tidak diatasi dapat menyebabkan kematian hingga 67%.
Salah satu tanaman yang mempunyai potensi sebagai obat skabies adalah gamal (Gliricidia sepium) atau sering disebut cebreng. Gamal merupakan tanaman pelindung yang daunnya biasa diberikan sebagai hijauan pakan ternak ruminansia karena memiliki nilai nutrisi dan kecernaan tinggi. Disamping itu daun dari tanaman ini ternyata juga mempunyai bahan aktif kumarin insektisida, rodentisida dan bakterisida.
Daun gamal yang digunakan adalah daun tua tetapi masih lunak dari pohon gamal berumur lebih dari enam bulan. Semakin tinggi kadar kumarin dalam daun semakin baik efeknya sebagai obat skabies. Cara mudah untuk mengetahui daun dengan kadar kumarin tinggi adalah dengan merobek daun dan dicium aromanya.
Daun dengan kadar kumarin tinggi biasanya baunya lebih menyengat. Disarankan menggunakan daun yang diambil pada musim penghujan yang umumnya mengandung kadar kumarin rendah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak minyak sawit daun gamal 50% dapat menyembuhkan skabies hingga 100% dengan dua kali pengobatan dengan jarak waktu satu minggu.
Sumber: Balai Besar Penelitian Veteriner (litbag.deptan.co.id)
Jumat, 08 Juni 2012
Warga Minta Peternakan Puyuh Direlokasi
Kamis, 08 Maret 2012 | 19:58:40 WITA | 174 HITS
SUNGGUMINASA, FAJAR --
Merespons keluhan warga terkait peternakan puyuh di tengah pemukiman,
Komisi VI DPRD Gowa meminta instansi terkait untuk segera merelokasi
peternakan itu.
Anggota DPRD Gowa Misbahuddin Tasrif mengatakan aspirasi atas peternakan itu disampaikan langsung warga Kampung Jangka, Desa Pangkabinanga, Kecamatan Palangga, Gowa.
"Warga terganggu oleh bau kotoran burung dari kandang puyuh di tengah pemukiman. Warga juga khawatir peternakan itu mudah menebar virus H5N1, penyebab flu burung," jelas Misbahuddin, kemarin.
Misbahuddin mengatakan masalah itu juga sudah disampaikan kepada Dinas Kesehatan Gowa Bagian Pencegahan Penyakit untuk melakukan pencegahan. "Dalam rapat kerja dengan Dinas Kesehatan kami sudah meminta agar peternakan itu dikaji dampaknya terhadap kesehatan warga sekitar," tuturnya.
Menurut dia, peternakan puyuh di tengah pemukiman warga ini, memang harus direlokasi. Sebab, selain bau kotorannya mengganggu warga sekitar, juga rawan menebarkan virus yang mematikan bagi manusia.
Sementara Burhanuddin Jawas, Kepala Lingkungan Kampung Jangka, Desa Pangkabinanga, Kecamatan Pallangga, Gowa, mengatakan peternakan itu sudah lama beroperasi. Tetapi menurut dia, peternakan itu memang tidak memiliki izin. "Mungkin kalau dulu tidak masalah, tetapi sekarang pemukiman semakin padat dan virus flu burung yang dengan mudahnya muncul, maka keberadaan peternakan unggas di tengah pemukiman harus direlokasi," jelasnya.
Burhanuddin mengakui, sebagai kepala lingkungan Kampung Jangka, dia menerima banyak keluhan dan kekhawatiran warganya terkait peternakan puyuh itu. "Sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah, aspirasi masyarakat itu telah saya tindaklanjuti dengan menyurat ke bupati Gowa agar kandang unggas yang berada di tengah pemukiman dipindahkan, termasuk peternakan puyuh yang sedang disoroti warga," tuturnya.
Dia mengatakan, permintaan kepada Pemkab Gowa untuk mencari solusi atas peternakan puyuh di tengah permukiman itu bukan untuk mematikan usaha yang bersangkutan. "Ini semata-mata untuk mencegah dampak buruk yang bisa timbul kapan saja. Di samping itu, saat ini, memang baunya sangat mengganggu warga," tegasnya.
KANDANG PUYUH. Peternakan puyuh yang berada di tengah permukiman warga Kampung Jangka, Desa Pangkabinanga, Kecamatan Palangga, Gowa |
Anggota DPRD Gowa Misbahuddin Tasrif mengatakan aspirasi atas peternakan itu disampaikan langsung warga Kampung Jangka, Desa Pangkabinanga, Kecamatan Palangga, Gowa.
"Warga terganggu oleh bau kotoran burung dari kandang puyuh di tengah pemukiman. Warga juga khawatir peternakan itu mudah menebar virus H5N1, penyebab flu burung," jelas Misbahuddin, kemarin.
Misbahuddin mengatakan masalah itu juga sudah disampaikan kepada Dinas Kesehatan Gowa Bagian Pencegahan Penyakit untuk melakukan pencegahan. "Dalam rapat kerja dengan Dinas Kesehatan kami sudah meminta agar peternakan itu dikaji dampaknya terhadap kesehatan warga sekitar," tuturnya.
Menurut dia, peternakan puyuh di tengah pemukiman warga ini, memang harus direlokasi. Sebab, selain bau kotorannya mengganggu warga sekitar, juga rawan menebarkan virus yang mematikan bagi manusia.
Sementara Burhanuddin Jawas, Kepala Lingkungan Kampung Jangka, Desa Pangkabinanga, Kecamatan Pallangga, Gowa, mengatakan peternakan itu sudah lama beroperasi. Tetapi menurut dia, peternakan itu memang tidak memiliki izin. "Mungkin kalau dulu tidak masalah, tetapi sekarang pemukiman semakin padat dan virus flu burung yang dengan mudahnya muncul, maka keberadaan peternakan unggas di tengah pemukiman harus direlokasi," jelasnya.
Burhanuddin mengakui, sebagai kepala lingkungan Kampung Jangka, dia menerima banyak keluhan dan kekhawatiran warganya terkait peternakan puyuh itu. "Sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah, aspirasi masyarakat itu telah saya tindaklanjuti dengan menyurat ke bupati Gowa agar kandang unggas yang berada di tengah pemukiman dipindahkan, termasuk peternakan puyuh yang sedang disoroti warga," tuturnya.
Dia mengatakan, permintaan kepada Pemkab Gowa untuk mencari solusi atas peternakan puyuh di tengah permukiman itu bukan untuk mematikan usaha yang bersangkutan. "Ini semata-mata untuk mencegah dampak buruk yang bisa timbul kapan saja. Di samping itu, saat ini, memang baunya sangat mengganggu warga," tegasnya.
Sebelumnya, Daeng Te'ne warga setempat, melalui SMS ke Interaktif FAJAR
mengeluhkan peternakan itu. "Sebagai warga saya meminta peternakan itu
ditutup untuk mencegah dampak buruk seperti bau tidak sedap dan flu
burung yang bisa datang kapan saja dan dengan mudah menjangkiti warga
sekitar," katanya. (aha/sap)
Sabtu, 26 Mei 2012
Biografi Bob Sadino

Bob Sadino
(Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang
pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan.
Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick.
Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan
pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir
dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari
lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu
berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena
saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.
Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.
Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.
Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.
Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.
Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.
Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.
Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.
Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.
Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.
”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.
Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.
Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.
Profil dan Biodata Bob Sadino
Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam
Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)
Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)
Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981
Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618
Referensi :
- http://pengusahamuda.wordpress.com/biografi/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Bob_Sadino
Sabtu, 07 April 2012
AGROINDUSTRI TELUR PUYUH YANG STABIL
Agroindustri telur puyuh di Indonesia mulai tumbuh tahun 1970an,
bersamaan dengan tumbuhnya agroindustri ayam ras petelur. Namun konsumen
telur puyuh lebih terbatas dibanding konsumen telur ayam ras. Sebab
bobot telur puyuh yang hanya 10 gram per butir (1/5 sd. 1/6 bobot telur
ayam ras yang 50 sd. 60 gram per butir), tidak memungkinkannya untuk
didadar atau diceplok (dibuat telur mata sapi). Telur puyuh juga tidak
mungkin masuk ke industri roti, kue, telur asin dan pedagang martabak
telur, yang selama ini lebih banyak memanfaatkan telur itik. Pemanfaatan
telur puyuh, terbanyak adalah untuk sup, campuran aneka sayur dan
untuk disate. Kulit telur puyuh juga sangat lemah, hingga tidak
memungkinkan pengemasan dan pengangkutan berskala massal dalam kondisi
mentah. Untuk mengatasinya, peternak puyuh akan melakukan perebusan
telur sebelum mengemas dan menyalurkannya ke pedagang atau konsumen.
Kondisi inilah antara lain yang menyebabkan pertumbuhan agroindustri
telur puyuh tidak mengalami kemajuan sepesat agroindustri telur ayam
maupun itik.
Disamping kelemahan-kelemahan tersebut, puyuh juga
memiliki kelebihan dibanding ayam dan itik petelur. Pertama,
agroindustri puyuh sangat hemat tempat. Ruang 20 m2 (4 X 5 m) misalnya,
mampu menampung sampai 2.000 ekor puyuh. Investasi kandang dan benih
juga sangat rendah. Biaya investasi kandang kapasitas 1.000 ekor hanya
sekitar Rp 600.000,- dengan masa penyusutan 1 tahun (Rp 50.000,- per
bulan). Investasi puyuh siap telur Rp 4.000,- per ekor atau Rp
4.000.000,- untuk 1.000 ekor, dengan masa penyusutan 1 tahun. Puyuh
afkir masih punya nilai jual Rp 1.500,- per ekor. Hingga beban investasi
benih Rp 210.000,- per bulan. Total beban investasi agroindustri puyuh
menjadi Rp Rp 4.600.000,- dengan beban penyusutan Rp 260.000,- per
bulan. Beban pakan per hari @ 0,015 kg. X 1.000 X Rp 2.500,- = Rp
37.500,- ditambah hijauan dan obat/vitamin Rp 5.000,- = Rp 42.500,- per
hari atau Rp 1.275.000,-per bulan. Total beban biaya per bulan menjadi
Rp 1.535.000,- Untuk skala usaha 1.000 sd. 5.000 ekor, agroindustri
puyuh masih bisa ditangani oleh anggota keluarga. Hingga beban tenaga
kerja tidak perlu dihitung. Kalau saja mau dihitung, maka biaya tenaga
kerja untuk skala 1.000 ekor hanyalah sekitar Rp 100.000,- per bulan (2
jam kerja per hari).
Dengan pakan dan perawatan yang benar, 1.000
ekor puyuh akan mampu menghasilkan 750 butir telur per hari (75%).
Hasil telur per bulan 22.500 butir. Harga telur di tingkat peternak Rp
80,- per butir. Hingga pendapatan kotor peternak dari telur, Rp
1.800.000,- per bulan. Dari 1.000 ekor puyuh itu, tiap harinya juga akan
dihasilkan kotoran sebanyak 5 kg. Tiap 6 hari sekali, kotoran yang
dihasilkan akan mencapai 1 karung @ 30 kg, yang akan laku dijual seharga
Rp 10.000,- Hingga dalam satu bulan, peternak masih akan memperoleh
tambahan pendapatan dari kotoran puyuh sebesar Rp 50.000,- Hingga total
pendapatan kotor peternak per bulan Rp 1.850.000,- Dengan beban biaya
per bulan Rp 1.535.000,- pendapatan bersih dari 1.000 ekor puyuh adalah
Rp 315.000,- Hingga apabila seorang peternak ingin berpendapatan Rp
1.500.000,- per bulan, maka ia harus memelihara sebanyak 5.000 ekor
puyuh. Populasi sebanyak itu, masih mungkin ditangani oleh anggota
keluarga sendiri.
Dari angka-angka tersebut, tampak bahwa
komponen biaya terbesar dalam agroindustri puyuh adalah pakan. Biaya
pakan yang Rp 1.275.000,- adalah 83% dari total biaya yang 1.535.000,-
atau 78% apabila beban tenaga kerja yang Rp 100.000,- diperhitungkan.
Perhitungan ini berdasarkan asumsi harga pakan Rp 2.500,- per kg.
Apabila harga pakan mencapai Rp 3.000,- per kg. dan harga telur tidak
mengalami kenaikan, maka peternak akan merugi. Selama ini harga telur
yang Rp 100,- per butir di tingkat konsumen, sudah lebih tinggi
dibanding harga telur ayam ras maupun itik. Sebab dengan berat 10 gram,
maka harga telur puyuh di tingkat konsumen sudah mencapai Rp 10.000,-
per kg. Sementara harga telur ayam ras hanya berkisar Rp 7.000,- per kg.
Keuntungan akan bisa ditingkatkan, apabila peternak bersedia meramu
pakan sendiri. Agar produksi telur tidak menurun, maka kandungan protein
dalam pakan, minimal 24 %. Komponen pakan tersebut bisa diperoleh
berdasarkan campuran jagung kuning giling 30%, dedak halus (katul) 20%,
bungkil 20% tepung ikan 15% kedelai giling 10%, tepung tulang/tepung
kerang 3%, vitamin dan mineral 2%. Dengan membeli bahan-bahan sendiri
dan mencampurnya, maka biaya pakan bisa ditekan menjadi Rp 2.000,- per
kg. atau Rp 900.000,- per bulan (58,6% dari total biaya).
Kendala
utama beternak puyuh di lingkungan pemukiman adalah bau kotoran yang
sangat menyengat. Untuk menghindarinya, ke dalam minuman puyuh, tiap
harinya dicampurkan rimpang kunyit yang telah diblender atau diparut.
Selain itu, tiap hari ke atas kotoran ditaburkan kapur tohor (kapur
bangunan), atau biang bakteri (semacam EM 4). Dengan perlakuan seperti
ini, bau kotoran puyuh dalam kandang akan hilang. Konstruksi kandang
puyuh selalu dibuat dengan lantai kawat ram, hingga kotoran akan jatuh
keluar kandang. Di bawah lantai tiap petak kandang, dipasang triplek
atau seng yang bisa ditarik serta didorong masuk. Kotoran yang jatuh
akan tertampung dalam triplek atau seng ini, dan tiap hari harus diambil
serta dibersihkan. Kotoran yang terkumpul dalam karung juga harus
diberi biang bakteri, agar tidak memunculkan bau busuk. Kotoran yang
ditimbun dalam karung, biasanya akan segera ditumbuhi belatung. Belatung
ini bisa dimanfaatkan untuk pakan anak ikan, burung atau dimasukkan
kembali ke dalam pakan puyuh. Namun dengan sanitasi yang baik, belatung
yang sebenarnya larva lalat itu tidak akan muncul.
Meskipun sudah
diberi pakan dengan gizi cukup, puyuh akan saling kanibal. Biasanya yang
menjadi korban adalah individu yang paling lemah. Bagian punggung di
atas ekor serta bagian pantat, paling sering diserang untuk dimakan
bulu-bulu mudanya. Apabila bagian ini luka dan berdarah, serangan akan
semakin sering hingga bisa mengakibatkan luka parah atau kematian. Untuk
mencegahnya, selain diberi pakan butiran, puyuh juga perlu diberi
sayuran. Namun sayuran seperti kangkung atau daun singkong juga akan
segera habis dikerubuti puyuh. Hingga masih diperlukan pemberian bahan
pakan yang keras dan awet untuk mengalihkan perhatian. Misalnya bonggol
atau potongan batang pisang, nangka/pepaya muda, singkong, ubi jalar
dan lain-lain bahan yang keras agar tidak segera habis termakan. Dengan
cara demikian, puyuh akan disibukkan mematuk-matuk bahan tersebut,
hingga tidak terjadi saling kanibal. Selain untuk mengalihkan perhatian
dari sifat kanibalnya, bahan-bahan tambahan ini juga akan memberikan
serat kasar, mineral serta vitamin bagi puyuh. Hingga kebutuhan pakannya
akan semakin tercukupi.
Para peternak puyuh yang serius, biasanya
tidak akan puas hanya sekadar memproduksi telur konsumsi. Mereka juga
akan melakukan pembenihan sendiri. Sebab dengan cara ini, nilai tambah
yang diperoleh akan meningkat. Peralatan yang diperlukan untuk usaha
breeding adalah satu unit mesin tetas dengan tiga box pembesaran.
Investasi mesin tetas kapasitas 300 butir telur puyuh (60 butir telur
ayam kampung), sekitar Rp 1.000.000,- Nilai tiga buah box pembesaran,
juga sekitar Rp 1.000.000,-. Dengan masa penyusutan 3 tahun, maka beban
penyusutan per masa penetasan Rp 18.500,- Dengan produksi 240 anak
puyuh, beban per ekor Rp 77,- Beban box pembesaran adalah Rp 45.700,-
maka beban penyusutan per ekor adalah Rp 190,- Masa tetas telur puyuh
hanya 17 hari. Beda dengan ayam yang 21 hari dan itik yang 28 hari.
Beban listrik dan tenaga selama penetasan dan pembesaran Rp 200.000,-
per periode atau Rp 833,- per ekor. Telur yang akan ditetaskan dipilih
yang berukuran seragam, berbentuk sempurna dengan warna kerabang yang
cukup cerah. Induk penghasil telur harus diberi pejantan cukup hingga
telur bisa fertil (terbuahi). Nilai telur tetas ini lebih tinggi dari
telur konsumsi, yakni sekitar Rp 120,- per butir.
Daya tetas
normal pembenihan puyuh adalah 80%. Hingga dari 300 butir telur yang
ditetaskan, akan diperoleh 240 anak puyuh. Dari jumlah itu, 120
berkelamin jantan dan 120 betina. Puyuh jantan akan digemukkan dengan
pakan starter dan grower sampai umur 50 hari dan dijual sebagai puyuh
potong dengan nilai Rp 1.500,- per ekor. Anak puyuh betina dibesarkan
untuk menjadi puyuh petelur, juga selama 50 hari. Nilai pakan untuk 120
ekor puyuh tersebut adalah 0,015 X 120 X Rp 2500,- X 50 = Rp 225.000,-
Dengan sayuran dan vitamin nilainya Rp 250.000,- atau beban per ekor Rp
1.042,- Hingga harga pokok anak puyuh (jantan maupun betina) adalah Rp
77,- (penyusutan mesin tetas) + Rp 190,- (penyusutan box) + Rp 833,-
(listrik dan tenaga) + Rp 120,- (harga telur) + Rp 1.042,- (pakan) = Rp
2.262,- Pendapatan dari puyuh jantan adalah Rp 1.500,- X 120 = Rp
180.000,- Dari puyuh betina siap telur Rp 4.000,- X 120 = Rp 480.000,-
atau total Rp 660.000,- atau per ekor Rp 2.760,- Hingga margin yang
diperoleh peternak Rp 488,- per ekor.
http://foragri.blogsome.com/agroindustri-telur-puyuh-yang-stabil/
Lalat Kandang
Lalat
(Musca domestica) menyerbu kandangku
Kandang merupakan tempat yang
menyenangkan bagi lalat, apalagi kandang yang kotor. Di dalam kandang terdapat
makanan yang banyak dan tempat berkembangbiak yang baik, karena kotoran ternak
sarang yang baik untuk perkembangan lalat.
Musim hujan merupakan waktu yang
tepat untuk perkembangbiakan lalat dari dulu. Iklim yang cocok untuk
berkembangbiak menyebabkan perkembagan lalat semakin cepat. Hasilnya, kandang
di serbu oleh lalat rumahan ini.
Pada umumnya siklus hidup lalat
melalui 4 stadium yaitu :
”telur - larva - pupa - lalat
dewasa”
Pengendalian lalat bukanlah hal
yang mudah karena hal ini mencakup banyak aspek. Bisa saja kita telah melakukan
usaha maksimal dalam pemberantasan lalat namun hal ini tidak membuahkan hasil
yang diharapkan dikarenakan factor-faktor lain yang sangat penting peranannya.
1. Lingkungan kandang yang kotor seperti
banyak sampah yang berserakan, bangkai ayam yang tidak dikubur atau dimusnahkan
dengan baik dll
2. Kondisi lingkungan kandang yang
lembab baik karena musim hujan ataupun karena sebab lainnya. Kondisi lembab ini
sangat disukai lalat untuk berkembang biak terlebih pada feces yang lembab atau
malah basah
3. Ayam yang sakit juga mengundang lalat.
Hal ini dikarenakan pada umumnya ayam yang sakit tidak mampu mencerna makanan
dengan baik akibatnya kotoran yang keluar menjadi lebih basah dan mengandung
amoniak yang tinggi. Hal ini sangat disukai lalat untuk meletakkan telurnya dan
berkembang biak menjadi larva dan lalat dewasa.
4. Managemen penyimpanan ataupun pemberian
pakan yang asal-asalan menyebabkan banyak pakan yang tercecer ataupun tumpah
sehingga dapat mengundang lalat terlebih jika pakan yang tercecer tersebut
terkena air dan menjadi lembab maka bagi lalat ini layaknya kue brownis coklat
yang sangat mengundang selera.
5. Kondisi kandang tetangga atau
lingkungan sekitar kandang yang jorok. Meskipun semua usaha pencegahan sudah
kita lakukan namun jika lingkungan sekitar kita yang kotor atau bisa dibilang
jorok maka bersiap-siaplah menerima getahnya berupa serbuan lalat.
Dalam situs Dokter Ternak.com ada
solusi untuk mengurangi / membasmi lalat secara organic. Caranya yaitu dengan
membunuh larva dan mengurangi bau yang ditimbulkan oleh kotoran ternak. Nama bahan
tersebut adalah PROTEXOL yang diproses dari bahan murni organik dengan
kandungan bioflavonoid dan polyphenol yang tinggi terbukti secara ilmiah maupun
empirik untuk menekan bau amonia (dan bau dari limbah organik lainnya) secara
efektif, cepat dan aman sekaligus membasmi larva
lalat (belatung).
Efisiensi dicapai dengan
kepekatan pencampuran ke dalam air yaitu 2%-4% PROTEXOL saja. Satu kali
penyemprotan larutan PROTEXOL (PENGHILANG BAU KANDANG) terbukti
mampu mengurangi bau amonia kotoran ayam sampai 90% selama 5 hari seperti yang
telah diterapkan di Sumber Rejeki Farm, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur.
Berdasarkan penuturan Bapak Puji
Suyoto (alumnus Universitas Soedirman) selaku manager farm, baru pada hari ke-6
dirasakan muncul bau lagi akibat akumulasi kotoran baru sehingga penyemprotan
perlu diulangi.
Posting: Sajuri SP.
Minggu, 01 April 2012
catatan
Kebijakan pekerjaan hebat
Lompatan keyakinan
(Oleh Penelope trunk dalam buku do more great work karangan Michael bungay stainer)
Kebanyakan orang yang tidak melakukan pekerjaan hebat menyalahkan kondisi kerjanya. Dan, itu cukup mudah dilakukan – selalu ada orang atau hal lain yang bisa anda salahkan. Terlalu banyak pekerjaan. Orang yang salah diwaktu yang tepat, orang yang tepat diwaktu yang salah. Tujuan yang terlalu sulit dicapai, tujuan yang terlalu mudah.
Namun pekerjaan hebat itu internal dan pada akhirnya pilihan untuk menemukannya atau tidak berada ditangan anda. Anda tidak harus dibayar untuk melakukan pekerjaan hebat. Tidak ada yang dapat menahan anda untuk tidak melakukan pekerjaan hebat dengan cara memberikan pekerjaan yang bodoh. Anda dapat melakukan pekerjaan hebat karena anda hebat. Mungkin anda melakukannya dirumah, sepulang dari kantor. Mungkin anda melakukannya didalam kepala anda, saat pergi ke kamar mandi ditempat kerja. Mungkin anda melakukannya tanpa bergantung pada apa job desk anda.
Akhirnya, semua bergantung pada anda. Jadi, sungguh, melakukan pekerjaan hebat adalah tentang mengenal siapa diri sendiri dan apa yang anda inginkan. Dan, inilah inti permasalahannya; kita tidak pernah tahu hal itu dengan pasti. Anda tidak akan pernah tahu segalanya tentang diri anda, dan anda tidak akan dapat menggambarkan apa yang anda inginkan dengan lengkap.
Namun, kita tidak dapat menunggu selamanya. Jadi kita harus menduga dan mencobanya. Melangkah maju untuk melakukan lebih banyak pekerjaan hebat, kenyataannya adalah tentang melakukan lompatan keyakinan karena pilihan - pilihan yang ada terlalu mengecewakan.
Langganan:
Postingan (Atom)